Maybrat — Menjelang peresmian Gereja Katolik Stasi Santo Yohanis Rasul Konja yang dijadwalkan pada 27 Desember 2025, Komunitas Lapak Baca Anak Rimba Wilayah Yamko Raya bersama Panitia Peresmian Gereja menggelar seminar sehari bertema “Peran Gereja Katolik dalam Isu Sosial dan Budaya di Wilayah Aifat.”
Seminar tersebut dilaksanakan di Aula Serba Guna Kampung Yarat, Jumat (20/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Direktur SKPKC Fransiskan Pastor Heribertus Lobia, OSA, aktivis HAM Lamberti Faan, serta akademisi/dosen Jhoni Rikardo Kocu, S.IP., M.IP.
Kegiatan yang digagas oleh kaum muda melalui Komunitas Lapak Baca Anak Rimba ini menjadi bukti tumbuhnya kesadaran kritis di tingkat akar rumput. Melalui diskusi tersebut, diharapkan Gereja Katolik terus berperan sebagai kompas moral dan agen perubahan yang aktif dalam menjaga identitas budaya serta memperjuangkan keadilan sosial di wilayah Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, dan Papua pada umumnya.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong Komunitas Lapak Baca Anak Rimba untuk terus tumbuh dan berkembang, serta memberikan dampak nyata dalam peningkatan literasi dan kesadaran sosial masyarakat.
Seminar berlangsung dengan suasana diskusi yang berbobot dan dihadiri oleh Pastor Paroki St. Yosep Ayawasi, para ketua stasi, Ketua Panitia Peresmian Gereja, para kepala kampung se-Wilayah Yamko, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, berbagai elemen masyarakat, serta kaum muda terdidik.
Dalam penyampaian materinya, akademisi Jhoni Rikardo Kocu, S.IP., M.IP., menekankan pentingnya peran Gereja dalam merespons kondisi sosial dan tantangan budaya yang dihadapi masyarakat Papua, khususnya di wilayah Aifat Utara. Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada generasi muda yang telah menginisiasi kegiatan seminar tersebut.
“Kita perlu membumikan literasi hingga ke kampung-kampung. Melalui pendidikan, orang Papua memiliki modal awal dan dasar untuk menata masa depan yang lebih baik dan bermartabat,” tegas Jhoni Rikardo Kocu.
Menurutnya, tantangan sosial di Aifat Utara membutuhkan sinergi antara nilai-nilai iman Gereja dan penguatan kapasitas intelektual masyarakat lokal.
Sementara itu, aktivis HAM Lamberti Faan menyoroti peran Gereja dari sudut pandang kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kehadiran Gereja tidak boleh terlepas dari perjuangan hak-hak dasar masyarakat di tengah situasi sosial yang kompleks. Dalam konteks konflik dan pengungsian di wilayah Aifat Timur (Maybrat), menurutnya, dibutuhkan peran aktif Gereja secara kelembagaan.
Adapun Direktur SKPKC Fransiskan, Pastor Heribertus Lobia, OSA, membedah peran Gereja melalui perspektif Teologi Pembebasan. Ia menjelaskan bahwa Teologi Pembebasan merupakan wujud aksi nyata Gereja dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi mereka yang tertindas, sekaligus menjadi jembatan spiritual dalam menjawab persoalan sosial dan budaya umat, khususnya di wilayah Ayawasi dan sekitarnya.
