Maybrat, Tabloidsisaom.com – Menjelang peluncuran film dokumenter bertema Adat dan Gereja Adalah Satu, umat Katolik Stasi Santo Yohanes Rasul Konja, Kabupaten Maybrat, antusias mempersiapkan rumah adat (Samu Wohah) sebagai salah satu lokasi utama pengambilan gambar.

Kegiatan syuting film dokumenter dijadwalkan berlangsung pada 1 September 2026 di halaman Gereja Stasi Santo Yohanes Rasul Konja. Seluruh masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut diwajibkan mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan identitas masyarakat Maybrat.

Koordinator Lapangan, Beyum Antonela Baru, menjelaskan pada Sabtu (22/8/2026) bahwa film dokumenter ini merupakan inisiatif Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, yang memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian pendidikan adat Wuon serta penguatan hubungan antara adat dan Gereja.

Menurut Antonela, kehadiran Gereja dan pendidikan formal telah membawa banyak perubahan, namun di sisi lain sejumlah nilai pendidikan adat mulai terlupakan. Melalui film dokumenter ini, masyarakat diajak kembali memahami bahwa adat dan Gereja bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan seiring dalam membentuk karakter, menjaga identitas, dan melestarikan budaya.

“Tujuan utama film ini adalah mempertemukan adat dan Gereja. Adat harus berjalan seirama dengan Gereja sehingga nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan identitas masyarakat tetap terjaga,” ujar Antonela.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan adat Wuon merupakan warisan penting masyarakat Maybrat yang mengajarkan karakter, penghormatan terhadap alam, wilayah adat, serta pengetahuan tradisional. Menurutnya, jika generasi muda kehilangan pendidikan adat, maka mereka juga akan kehilangan identitas serta kepedulian terhadap hutan dan tanah adat.

Film dokumenter ini akan mengangkat sebagian proses pendidikan adat yang dapat dipublikasikan kepada masyarakat luas, seperti pengenalan tanaman obat, perjalanan ke tempat-tempat sakral, dan prosesi budaya tertentu. Sementara bagian-bagian yang bersifat rahasia dan sakral tetap dijaga serta tidak akan ditampilkan.

Antonela menambahkan bahwa proyek ini mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui sektor kebudayaan dan diharapkan juga memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten Maybrat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.

Selain mengangkat nilai budaya, film ini juga membawa pesan pelestarian lingkungan. Hutan adat dipandang sebagai sumber kehidupan, tempat berlangsungnya pendidikan adat, serta bagian penting dari identitas masyarakat Papua. Karena itu, masyarakat diajak menjaga hutan dan tanah adat dari berbagai ancaman yang dapat merusak warisan budaya.

Proses syuting juga akan mengambil gambar di sejumlah lokasi wisata alam, termasuk Titik Bintang, untuk memperlihatkan keindahan alam Maybrat sekaligus mengampanyekan pentingnya menjaga kebersihan kawasan wisata.

Film dokumenter tersebut akan disutradarai oleh tim internasional yang melibatkan sineas dari Spanyol dan Peru, dengan harapan karya ini dapat memperkenalkan budaya masyarakat Maybrat kepada dunia sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda.

Pada adegan penutup, akan ditampilkan prosesi keluarnya peserta dari rumah adat menuju Gereja Stasi Santo Yohanes Rasul Konja yang diiringi tarian adat. Adegan tersebut menjadi simbol bahwa adat dan agama berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat Maybrat.

Melalui film dokumenter ini, diharapkan pemerintah, Gereja, dan masyarakat terus bekerja sama menjaga keberlangsungan pendidikan adat Wuon, melestarikan budaya, mempertahankan bahasa daerah, serta menjaga hutan sebagai warisan bagi generasi mendatang. (*)