Konja, Tabloidsisaom.com – Alunan nyanyian liturgi berpadu dengan suara tifa dan sapaan adat mengawali sebuah peristiwa yang tidak biasa di Gereja Katolik Stasi Santo Yohanes Rasul Konja, Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Selasa (1/9/2026). Hari itu, budaya dan iman bertemu dalam satu perayaan yang sarat makna.
Di halaman gereja, para tetua adat, pastor, umat, serta masyarakat dari Aifat, Mare, dan Karon (AMK) hadir mengenakan busana adat. Prosesi Ho Wuon dan tarian Fenia Ketak mengiringi penyambutan Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, yang memimpin Misa Etnis Budaya sekaligus proses pembuatan film dokumenter bertema “Budaya dan Gereja Menjadi Satu.”
Bagi Uskup Bernardus, perayaan itu bukan sekadar sebuah misa, melainkan awal dari gerakan besar untuk menghidupkan kembali identitas budaya masyarakat AMK yang perlahan mulai memudar di tengah derasnya arus modernisasi.
Dalam homilinya, ia mengajak umat untuk kembali mendengarkan suara Tuhan sekaligus mendengarkan pesan-pesan leluhur. Menurutnya, keduanya tidak saling bertentangan, tetapi justru saling menguatkan dalam membentuk manusia yang beriman, berbudaya, dan menghargai sesama.
Ia menekankan bahwa pendidikan adat Wuon dan nilai-nilai Fenia Meroah merupakan warisan yang telah membentuk karakter masyarakat AMK sejak dahulu. Nilai tentang penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab, kepemimpinan, persaudaraan, hingga menjaga hubungan harmonis dengan alam merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang.
“Bila kita berhenti mendengarkan warisan leluhur dan Sabda Tuhan, maka kita perlahan kehilangan jati diri,” pesan Uskup Bernardus kepada umat.
Keprihatinan itulah yang mendorong lahirnya gagasan menyusun Liturgi Budaya AMK, sebuah bentuk inkulturasi Gereja yang memadukan kekayaan budaya lokal dengan tata perayaan iman Katolik tanpa menghilangkan makna Injil.
Uskup Bernardus menegaskan dirinya akan bekerja bersama para pastor pribumi asal Aifat, Mare, dan Karon untuk membentuk panitia penyusunan liturgi budaya. Langkah itu akan diawali dengan penerjemahan berbagai unsur liturgi ke dalam bahasa daerah, pendokumentasian simbol-simbol adat, hingga penyusunan tata perayaan yang berakar pada budaya masyarakat setempat.
Menurutnya, Gereja tidak hanya hadir untuk mewartakan Injil, tetapi juga menjadi ruang yang merawat identitas dan martabat budaya masyarakat.
Film dokumenter yang diproduksi dalam kegiatan tersebut diharapkan menjadi catatan sejarah sekaligus media pembelajaran bagi generasi muda agar mengenal kembali akar budayanya. Dokumenter itu akan merekam perjalanan budaya AMK, kehidupan sekolah adat Wuon, nilai-nilai Fenia Meroah, serta hubungan erat antara adat, alam, dan Gereja.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, Misa Etnis Budaya di Konja menjadi penanda bahwa budaya tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan. Sebaliknya, budaya dapat menjadi jalan untuk semakin mengenal Tuhan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga jati diri masyarakat.
Dari sebuah kampung kecil di pedalaman Papua Barat Daya, lahir sebuah harapan besar: agar warisan leluhur tetap hidup, bahasa daerah tetap terdengar, rumah adat tetap berdiri, dan Gereja terus menjadi rumah bersama yang merangkul iman sekaligus budaya orang Aifat, Mare, dan Karon. (*)
